Breaking

Rabu, 18 November 2020

Illa 'FMPP' Setiawati Apresiasi Kepsek SMK Muhammadiyah 2 Cibiru - Clear, Ijazah Aef Trimansyah

Sukacita keberhasilan pembebasan ijazah atas nama Aef Trimansah (paling kanan), bersama para aktivis dan simpatisan FMPP antara lain Hengki Siagian (kiri), Asep Sutiawan (kedua dari kiri), dan Illa Stiawati, Ketua FMPP - "Hari ini setelah kami beraudiensi ke Ombudsman, merupakan perjuangan pembebasan ijazah sekolah paling alot. Semoga Kepsek lainnya, tergugah ..." (foto: Harri Safiari) 

 

Algivon – Hari ini Rabu, 18 November 2020 perjuangan FMPP (Forum Masyarakat Peduli Pendidikan) seminggu setelah melakukan audiensi ke Ombudsman RI Perwakilan Jabar di Jl. Kebon Waru Utara No. 1 Kota Bandung, yang kala itu membawa orang tua siswa dan beberapa lulusan sekolah - membahas sekitar 40-an SMP, SMA, SMK Negeri dan Swasta se Bandung Raya yang masih menahan keberadaan ijazah lulusannya, tersebab belum menyelesaikan urusan keuangan. 

 

“Tiap hari setelah audiensi ke Ombudsman itu, bersama para lulusan sekolah dan orang tuanya, datang ke sekolah untuk membebaskan ijazah yang masih tertahan. Banyak suka dukanya, umumnya para kepala sekolah ahirnya sadar, lalu membebaskan ijazah yang memang sangat diperlukan para lulusan untuk modal melamar kerja,” papar Illa Setiawati, Ketua FMPP yang ditemui redaksi sedang memperjuangkan pembebasan ijazah di SMK Muhammadiyah 2 Cibiru Bandung pada hari Rabu itu.

 

Seturut kata Illa yang diperjuangkan yakni pembebasan ijazah SMK Muhammadiyah 2 Cibiru atas nama Aef Trimansyah (22) lulusan sekolah dengan paket keahlian Administrasi Perkantoran pada 2018 lalu.

 

“Aef diantar ibunya sejak selasa kemarin ingin bertemu dengan kepala sekolah, namun biasa agak alot, agak berbelit-belit, utamanya dengan staf TU. Ujung-ujungnya harus bertemu di rumah kepala sekolah, karena kan sekarang musim work from home,” jelas Illa yang didampingi suaminya Hengki Siagian selaku aktivis FMPP yang semuanya siang itu berniat hendak pergi ke rumah kepala sekolah.

 

Tunggu punya tunggu, sore harinya kepada para pewarta Illa setelah memperoleh biaya hasil udunan (patungan) yang diprakarsai oleh pedagang es kelapa Asep Sutiawan, yang sehari-hari tahu persis kondisi sosial-ekonomi keluarga Aef Tirmansyah, terkumpullah Rp. 100 ribu uang receh secara spontan.

 

“Uang Rp100 ribu ini sebagai simbolis dari yang seharusnya Aef mencicil total Rp. 4,1 juta. Adanya hari ini ya segini itu …,”  kata Hengki.

 

Masih kata Hengki, maksud pengumpulan uang seadanya itu, karena Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Cibiru, Drs. Dedeng Mulyadi, M.MPd dalam perundingannya tadi di rumahnya, menginginkan adanya uang tunai permulaan bila ingin menebus ijazah Aef ini.

 

“Nah, sisanya bisa dicicil, karena kan Aef sendiri saat ini sudah mulai bekerja. Pun Aef dibantu sekolah, akan diusahan memperoleh bantuan dari Baznas Kota Bandung atau Provinsi Jabar nantinya,”jelas Hengki.

 

Akhirnya Bebas …

Detik-detik dramatisasi pembebasan ijazah Aef yang didamba keluarga seluruh keluarganya, sampai Rabu sore, mulanya hanya tersiar kabar Aef hanya bisa menerima legalisasi ijazah, disertai sepucuk surat pengantar ke Baznas untuk memperoleh bantuan pelunasan ijazah. Mengetahui, hasilnya seperti ini - Aef sempat bermuram durja dan murung:

 

"Koq begini ya, salah apa saya? Apa karena menjadi orang tak berpunya?" tanya Aef dengan wajah sedih.

 

Rupanya, hasil negosiasi yang mengecewakan Aef ini  diketahui oleh aktivis FMPP lainnya yang bernama Rahmien. Seketika Rahmien langsung mengontak Dedeng Mulyadi, dan menjelaskan betapa pentingnya ijazah ini bagi Aef yang mulai bangkit untuk menata dirinya bekerja membantu dirinya dan keluarga orang tuanya.

 

“Diluar dugaan Pak Dedeng Mulyadi mungkin tergerak untuk membebaskan Aef dari sekedar tadinya hanya memberi legalisir ijazah dan secarik bantuan surat ke Baznas,” jelas Illa sambil memperlihatkan sosok ijazah yang sudah dipegang oleh Aef dan ibunya –“FMPP mengapresiasi pembebasan ijazah ini. Pak Dedeng Mulyadi akhirnya luluh juga, clear ... ”

 

Sontak Aef yang sedari pagi tampak gelisah, dan pesimis bisa memperoleh haknya ijazah yang dinanti-nantikannya dalam dua tahun terakhir, Rabu sore itu mendadadk wajahnya tampak bungah:

 

”Hatur nuhun sama bapak-bapak dan ibu di FMPP, saya dan keluarga sekarang agak lega, maksudnya untuk modal bekerja ijazah ini, insya Alloh saya akan mencicil ke sekolah untuk ijazah ini,” pungkasnya.(Harri Safiari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox