Alternatif Antioksidan Alami untuk Pelestarian Akuakultur Berkelanjutan



Ilustrasi oksigen (Foto: Istimewa)





O P I N I 



Oleh: Fittrie Meyllianawaty Pratiwy, Ph.D. 

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran 



Algivon -- Antioxidan kini tengah banyak digunakan dalam budidaya akuakultur. Senyawa ini memiliki kemampuan untuk membatasi efek stres oksidatif, yaitu merupakan hasil dari metabolisme oksigen yang tinggi di dalam tubuh, menyebabkan munculnya Spesies Oksigen Reaktif (ROS, atau disebut juga sebagai radikal bebas). Lalu yang terakhir mengganggu pensinyalan sel dan jaringan, menyebabkan kerusakan dan disfungsi di dalam organisme. Antioksidan juga secara alami disertakan dalam pakan untuk mencegahnya, dari oksidasi dan degradasi, juga demi menjaga kualitas senyawa pakan secara maksimal. Melalui paparan oksigen dan ROS yang tinggi, antioksidan mengais radikal bebas tersebut, dan menguranginya dengan memberi mereka atom hidrogen: senyawa baru ini tidak berbahaya bagi pakan dan antioksidan teroksidasi jauh lebih tidak reaktif. 


Ethoxyquin baru-baru ini tengah dilarang oleh otoritas pangan Eropa, sehingga solusi alternatif untuk menggantikan Ethoxyquin perlu dicari, guna menghasilkan aquafeed berkualitas tinggi dengan produk yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan antioksidan sintetik. 


Polifenol dikenal sebagai molekul antioksidan yang sangat efisien berkat gugus fenolnya. Di antara sumber polifenol alami, biji anggur dan ekstrak kulitnya banyak digunakan karena mengandung polifenol yang tinggi, terutama tanin yang sudah terkondensasi. Polifenol anggur memiliki potensi yang cukup besar sebagai antioksidan yang dapat diekstraksi (antosianin, flavonol, flavan-3-ol dan asam fenolik) dan tidak dapat diekstraksi polifenol (proanthocyanidins polimer dan tanin terhidrolisis berat molekul), keduanya mampu mengikat radikal bebas dan ketengikan terhadap bahan pakan. Keberadaan senyawa fenolik dalam limbah anggur berpotensi dalam dunia kesehatan karena menunjukkan kapasitas antioksidan. Antosianin merupakan golongan fenolat pada kulit anggur, flavan-3-ols dapat ditemukan di kulit dan biji anggur. Persentase kandungan antosianin pada anggur hitam sebesar 30% dari total kandungan polifenol. Malvidin-3-O-glukosida merupakan antosianin yang paling banyak ditemukan pada kulit anggur diikuti oleh Peonidin-3-O- glukosida. Stabilitas antosianin dipengaruhi oleh beberapa hal seperti cahaya, pH, enzim, senyawa dan suhu. Antosianin berfungsi sebagai anti kanker, antioksidan dan anti-inflamasi. Karakteristik fenolat nonantosianin dalam kulit anggur terdiri dari katekin, proantosianidin, glikosida flavonol, asam fenolat, dan stilbene


Antioksidan saat ini diketahui yang paling kuat adalah di antaranya, yaitu tanin terkondensasi, procyanidins, dan lebih khusus oligo-procyanidins (OPC). Baru-baru ini dtemukan potensi aditif pakan kaya OPC, Olpheel Anti-Ox, sebagai antioksidan alami untuk budidaya akuakultur. Ekstrak biji dan kulit ini pun mampu membersihkan bakteri- bakteri dalam tubuh karena bersifat antibakteri dan mampu mengurangi kontaminasi bakteri dalam makanan. Biji dan kulit anggur apabila diekstrak mengeluarkan senyawa aktif seperti resveratrol yang mampu membunuh bakteri Stapylococcus aerus. Ekstrak biji anggur memiliki kandungan senyawa kimia didalamnya sebagai anti inflamasi dan anti bakteri. (HS/FMP)

Alternatif Antioksidan Alami untuk Pelestarian Akuakultur Berkelanjutan   Alternatif Antioksidan Alami untuk Pelestarian Akuakultur Berkelanjutan Reviewed by Harri Safiari on 22.32 Rating: 5

Tidak ada komentar